Thursday, December 31, 2015

Uni Papua FC 2016 New Tagline : Sustainable Social Change Development Through Football

Terima Kasih 2015, Selamat Datang 2016 : Uni Papua Tema dan Agenda

Uni Papua FC mengucapkan terima kasih atas dukungan dan kepercayaan Pecinta Sepakbola Sosial dimanapun, kiranya tahun 2015 yang telah kita lewati ini telah memberikan pengalaman dan pelajaran berarti. Uni Papua FC telah meninggalkan sejarah baru bagi pembinaan sepakbola Tanah Air dan kini telah menjadi gerakan 'relawan' sepakbola sosial yang telah tersebar di 29 komunitas dari Papua, NTT, Sulawesi, Bali, Jawa, Kalimantan dan Aceh, bahkan 1 cabang di Helsinki, Finland.

Di hari terakhir tahun 2015 ini kami menyampaikan tema Uni Papua FC tahun 2016 adalah :
Football For Peace, Sepakbola untuk Perdamaian.

untuk kontak dan kerjasama silahkan dapat dikunjungi :
www.unipapua.net
info@unipapua.net
FB Page : Uni Papua Football

Keluarga Besar Uni Papua FC dan semua supporters menyampaikan ucapan Selamat Hari Natal 2015 dan Tahun 2016. Tuhan beserta kita !


Cabang luar negeri yang segera dibuka pada tahun 2016 :















Friday, October 9, 2015

Ketika Trio Pelatih Uni Papua FC Melatih Anak-Anak Rusun Jakarta

Insoraki Sawor, ketika bersama anak-anak Rusun Jakarta, beberapa waktu lalu.(Dok.UPFC)
Jakarta,9/10- Selama dua minggu, tiga instruktur (Pelatih) dari Uni Papua Football Community (UPFC) mendapat kepercayaan khusus dari CEO UPFC untuk bermain dan belajar bersama anak-anak Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) di Jakarta.
Ketiga Instruktur itu adalah Insoraki Sawor, Demianus Howay dan Frans Paraibabo. Trio pelatih UPFC yang masih muda-muda ini ditemani oleh General Manager Alma Costa, mengunjungi 18 Rusunawa yang tersebar dalam ibukota Negara Republik Indonesia ini tanpa pamrih, karena kepedulian dan kecintaannya pada anak-anak.
Bagaimana cerita  mereka? berikut kutipan pernyataan dari trio pelatih UPFC yang dirangkum singkat ; " Yang membuat dongkol sebenarnya perjalanan menuju lokasi Rusunawa. Bisa satu sampai dua jam kami sampai di lokasi," tutur Demianus Howay, di kantor UPFC, Kalideres, Jakarta Barat, Jumat(8/10/2015).
Meski demikian, anak muda asal Sorong yang sudah melanglang buana ke Negeri Jiran dan Negeri Ginseng ini mengaku senang dan bahagia ketika bertemu dan melihat anak-anak Rusun yang antusias.
" Biarpun ongkos habis di jalan Jakarta yang macet, tapi sekejap kami lupakan hal itu setelah melihat  anak-anak rusun bermain dengan gembira," kata Demianus Howay
Sementara itu, Frans Paraibabo menuturkan, awalnya dirinya sempat kaget ketika anak-anak di beberapa Rusun yang masih duduk di bangku sekolah dasar sudah saling mengumpat, mengucapkan kata-kata kotor layaknya orang Dewasa." Tapi kemudian kami memberi nasehat, agar mereka tidak lagi berbicara kata-kata yang kotor," jelasnya.
Frans berharap agar pendampingan seperti ini terus dilakukan UPFC , agar anak-anak penghuni Rusun bisa tumbuh menjadi orang yang berjiwa sehat, kuat, saling menghargai orang lain dan menjadi pribadi baik.
Hal senada juga diutarakan Insoraki Sawor. Perempuan asal karang panas Biak ini nampak begitu akrab dengan anak-anak Rusun, khususnya perempuan. " Saya senang bisa memberikan ilmu kepada anak-anak di Jakarta. Saya berharap apa yang kita berikan, dapat bermanfaat bagi mereka," tuturnya.

Secara umum, kata Inso, panggilan akrabnya, jika antusias anak-anak Rusun cukup tinggi terhadap program UPFC. Ia berharap, program ini dapat terus digalakkan, agar memberi dampak yang baik bagi anak-anak di Rusun Jakarta.(Alberth Yomo)

Wednesday, September 30, 2015

Pelatihan CAC Berdampak Bagi Anak-Anak Sekolah Di Mulia Puncak Jaya

CEO Uni Papua FC, Harry Widjaja bersama Koordinator UPFC Cabang Mulia Puncak Jaya, Nelson Wonda dan pengurus UPFC lainnya, ketika melakukan jamuan makan malam, di salah satu Restoran ternama di Jakarta, Senin(28/9) lalu.

Jakarta, 30/9(UPFC)- Pada tanggal 15 September 2015, tim dari Dinas Kesehatan Kabupaten Puncak Jaya, khususnya bagian Pengelolah HIV/AIDS,melakukan screaning (Pemeriksaan) HIV/AIDS pada dua sekolah di Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Provinsi Papua. Kedua sekolah itu adalah Sekolah Menengah Umum dan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Mulia.

Apa yang terjadi? Ketika tim screaning HIV/AIDS ini tiba di Sekolah, ternyata sebagian besar siswa sudah "kabur" dari sekolahnya karena takut diambil sampel darahnya. Hal tersebut tentu mengindikasikan, jika sebagian siswa itu mungkin saja sudah terjerumus dalam pergaulan bebas dan mungkin saja telah melakukan hubungan seks, tanpa memahami resiko yang akan menimpa mereka.

Namun setelah mengikuti kegiatan pelatihan dari Coach Across Continent (CAC) yang bekerjasama dengan Uni Papua Football Community, selama 3 hari, siswa-siswa tersebut akhirnya berani memutuskan untuk melakukan pemeriksaan HIV/AIDS.
"Setelah mendapatkan materi latihan session Adebayor tentang menghindari bahaya HIV, siswa siswi itu akhirnya mengambil keputusan untuk  melakukan pemeriksaan darah," kata Nelson Wonda, Koordinator Uni Papua Cabang Mulia, Puncak Jaya.

Nelson yang sehari-harinya bekerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Puncak Jaya ini, kemudian menyimpulkan, bahwa ternyata pelatihan CAC ini sangat bermanfaat dalam sosialisasi HIV/AIDS." Ini sangat membantu kami petugas Pengelola HIV/ AIDS di daerah untuk membantu anak-anak  muda di Kabupaten Puncak Jaya," tuturnya.

Tidak hanya itu, pada penyelenggaraan kompetisi sepakbola internal di daerahnya, anak-anak yang tergabung dalam Uni Papua FC berhasil mempertontonkan permainan yang baik dan berhasil mengimplementasikan pengajaran yang diberikan pelatih.

 “ Kami puas karena anak anak kami tidak mengeluarkan kata kotor dan tidak main kasar.Kami tidak inginkan kemenangan dengan cara main kasar,atau dengan yang cara kurang terpuji,
Anak-anak terlihat bermain dengan lepas tanpa beban, dan hasilnya Tim Uni Papua Umur 5 – 12 tahun dan Umur 13 – 21 tahun mendapat Juara 1," kata Nelson Wonda.

Saat evaluasi, lanjut Nelson, kata anak-anak yang bermain, jika mereka tidak ada bayangan untuk menang dan mencetak gol, namun yang dijaga adalah instruksi dari Coach untuk tidak mengeluarkan kata kotor dan tidak bermain kasar.


"Namun gol-gol yang terjadi diluar dugaan. Sehingga saya mengambil kesimpulan,  bahwa kemenangan itu bisa terjadi apabila pemain tidak emosional dan tidak bermain kasar. Anak-anak dibekali dengan pemahaman itu, dan itu menjadi tolak ukur kesuksesan tim Uni Papua FC  Cabang Mulia Puncak Jaya," tutup Nelson Wonda.(MR/UP)

Tuesday, September 29, 2015

Ahok Berharap Uni Papua Berikan Dampak Positif Bagi Penghuni Rusun

Insoraki Sawor, Jeje Rumbino, Demianus Howay dan Frans Pariaribo dari Uni Papua FC, ketika mengikuti Soft Launching Jakarta Football Festival Rusun Cup 2015, di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa(29/9).

Jakarta(29/9),- Linda Wati(35), penghuni lantai dua Rumah Susun(Rusun) Cipinang Besar Selatan, tak berani meninggalkan anaknya yang berumur 5 tahun untuk bermain sendirian. Ia bahkan menutup pintu, menguncinya dan kuncinya disimpan. Ada rasa kuatir, anaknya bermain di luar pengawasannya, bisa berakibat fatal.
Kekuatiran yang sama pula dirasakan Lisbet Munthe(35), penghuni lantai 4 di Rusun yang sama. Ia selalu gelisah, ketika anaknya yang berumur 10 tahun, pergi bermain bersama teman-temannya sesama penghuni Rusun.
Nampaknya kekuatiran yang sama dirasakan oleh para orangtua penghuni Rusun di Jakarta. Mereka berharap, selain pagar pembatas yang aman dan fasilitas penunjang keamanan Rusun lainnya, sebaiknya ada kegiatan yang dapat memotivasi anak-anak mereka untuk terkonsentrasi bermain di tempat yang aman, misalnya di lapangan.
Kekuatiran itu pula yang dirasakan Uni Papua Football Community(UPFC). Karena itu, melalui dukungan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), UPFC akan mengintensifkan gerakan bermain sepakbola ria bagi anak-anak penghuni Rusun di wilayah Jakarta.
Gerakan yang dilakukan oleh UPFC selain untuk mengkonsentrasikan anak-anak Rusun bermain di lapangan, juga gerakan sepakbola social yang menjadi focus UPFC, dinilai cukup baik untuk memberikan nilai-nilai positif terhadap perkembangan anak-anak.
Gerakan UPFC ini akan diawali dengan menggelar kegiatan bertajuk Jakarta Football Festival Rusun Cup, yang direncanakan berlangsung Oktober hingga November, dengan melibatkan anak-anak penghuni Rusun di wilayah Jakarta.
Beberapa kegiatan menjelang Festival Rusun Cup telah dilakukan UPFC, mulai dari menggelar Coaching Clinik di beberapa lokasi Rusun, hingga yang terkini adalah rencana penyerahan 500 bola Chevrolet OWF kepada penghuni Rusun melalui Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, yang akan diterima langsung oleh Gubernur Basuki Tjahaja Purnama. Penyerahan 500 bola ini, direncanakan akan berlangsung di Balai Kota, Selasa(30/9).
“ Saya kira saat ini, semua pihak mestinya aware terhadap kehidupan sesame, terutama anak-anak kita, generasi muda kita, yang merupakan tulang punggung dan harapan bangsa dan Negara,”kata CEO UPFC, Harry Widjaja, Minggu(27/9).
Pengaruh buruk yang begitu mudah merasuki jiwa anak-anak, menjadi kekuatiran Harry. Karena itu, melalui organisasi UPFC, ia berharap dukungan semua pihak, termasuk Pemerintah untuk memberikan ruang bermain bagi anak-anak.
”Di tempat bermain yang luas, hijau,bersih dan nyaman, mereka bisa berinteraksi dengan sesamanya, mereka bisa bermain dengan gembira, orangtuapun pasti ikut senang. Jika hal ini dilakukan tersistematik, akan memberikan pengaruh positif bagi perkembangan anak. Bisa menjadi penangkal pengaruh negative,”tuturnya.

Jadi penyerahan 500 bola dari UPFC kepada Gubernur DKI Jakarta, merupakan gerakan social melalui sepakbola untuk perubahan. Melalui 500 bola, diharapkan anak-anak Rusun memiliki media untuk bermain, belajar dan menjadi pribadi yang sehat, tangguh dan bertanggung jawab.(MR/UP)

Uni Papua FC Bentengi Anak Anak Rusun Dengan Sepakbola Sosial

Insoraki Sawor, salah satu Coach dari Uni Papua FC, ketika memberikan coaching clinik kepada anak-anak di Rusun Daan Mogot Jakarta, Sabtu(26/9)lalu.
Jakarta,26/9 - Joni berhenti sejenak, melepas lelah. Wajahnya tampak berkeringat dan tatapannya tajam ke arah Hesty, sepertinya ia memikirkan bagaimana caranya agar ia dapat menyentuh Hesty yang mudah diloloskan oleh teman-temannya. Hesty hanya melakukan tindakan melewati kaki rekannya yang terbuka lebar atau melompat dibelakang rekannya, maka ia aman sementara dari kejaran Joni.
Joni kemudian mengalihkan targetnya ke rekan-rekan Hesty yang lain. Pemain yang dikejar Joni harus dibantu oleh rekannya yang lain dengan tindakan membuka kaki lebar atau merunduk agar pemain yang dikejar bisa melompat di belakangnya dan aman dari kejaran Joni.
Apabila tindakan membuka kaki lebar-lebar atau merunduk tidak dilakukan dengan cepat, maka pemain itu akan di sentuh oleh Joni dan menjadi rekan Joni untuk mengejar pemain lainnya, sampai semua pemain yang bermain dalam ruang berukuran 15 x 15 meter  itu berhasil disentuh.
“Players also learn the importance of helping each other out - one time I will help free my teammate but some other time I might get tagged and need my teammate's help,” kata Charles dari Coach Across Continents (CAC) tentang simulasi permainan itu, kepada 50 orang peserta Coaching, usai melakukan 1 dari 30 simulasi permainan yang dinamakan Messi for Gender Equity, di Sentani beberapa waktu lalu.
Melalui permainan ini, pemain dapat belajar tentang tubuh mereka (jantung, paru-paru, otot dan lain-lain) atau tentang masalah kesehatan. Pemain juga belajar pentingnya membantu satu sama lain .
“Satu waktu saya akan membantu membebaskan rekan saya tapi lain waktu saya mungkin akan ditandai dan membutuhkan bantuan rekan saya. Untuk bekerja dengan sukses sebagai sebuah tim, kita harus membangun hubungan berdasarkan kepercayaan ,” kata Yan Pepuho menerjemahkan ungkapan berbahasa Inggris dari Charles.
Semua orang pasti menyadari, bahwa ia tak mungkin hidup sendiri, ia memerlukan bantuan orang lain. Karena itu, ketika ada kesempatan, ayo kita membantu orang lain untuk keluar dari masalahnya. Sehingga di lain waktu, ketika kita dalam kesulitan, orang lainpun akan membantu kita.
“Praktek ini harus dimunculkan di sekolah dengan sesama siswa, di tempat kerja dengan kolega, dalam bisnis maupun di rumah dalam keluarga,” ujar Yan.
Demikian sekilas gambaran tentang praktek sepakbola social yang dikerjakan oleh Uni Papua Football Community bekerja sama dengan Coach Across Continents (CAC) Amerika Serikat.
Sebagai organisasi sepakbola social pertama dan terbesar di Indonesia, Uni Papua Football Community berkomitment untuk menyebarkan virus kebaikan dan kedamaian melalui Sepakbola, terutama kepada anak-anak yang merupakan harapan dan tulang punggung bangsa dan Negara Indonesia.
Warga Jakarta yang menghuni rumah susun (Rusun), terdapat ratusan bahkan ribuan anak-anak. Warga dalam kelompok ini sangat rentan dengan pengaruh negative, karena itu Uni Papua FC merasa penting untuk memberikan penguatan kepada anak-anak Rusun melalui sepakbola social sejak dini, sehingga diri mereka dapat terbentengi dari penyebaran virus social yang mengancam bangsa dan Negara Indonesia saat ini.(MR/UP)


Monday, June 22, 2015

Uni Papua Aceh Akan Blusukan Ke Sekolah-Sekolah

GM Uni Papua FC, ketika berinteraksi dengan anak-anak Uni Papua Banda Aceh, di lapangan sepakbola sintetic Kota Banda Aceh, Minggu(14/6) lalu.
Aceh(15/6),- Pengurus Uni Papua Kuta Gle Banda Aceh akan melakukan sosialisasi sepakbola sosial dengan mendatangi langsung sekolah-sekolah di Banda Aceh (Blusukan). Tujuannya, agar Uni Papua FC makin dikenal dan dicintai sebagai sahabat orangtua dan sahabat Pemerintah Daerah Banda Aceh.

“Melalui ijin Dinas Pendidikan Provinsi Aceh, kami akan melakukan perjalanan ke sekolah-sekolah, memperkenalkan Uni Papua FC dan program-programnya, sehingga orang Aceh makin mengenal Uni Papua FC,” kata koordinator Uni Papua Kuta Gle Banda Aceh, Fauzainy M.Y, beberapa waktu lalu.

Bahkan, lanjutnya, tidak menutup kemungkinan Uni Papua Kuta Gle Banda Aceh bisa mengambil jadwal extra kulikuler di sekolah-sekolah dengan kegiatan sepakbola sosial yang langsung ditangani oleh instruktur Uni Papua FC.

General Manager Uni Papua FC, Alma Costa sangat mendukung inisiatif dari Uni Papua Kuta Gle Banda Aceh itu, ia berharap semua pengurus bisa jalan bersama, saling bahu membahu, agar program Uni Papua bisa masuk ke sekolah dan menyentuh anak-anak di Banda Aceh.

Instruktur Glaiton Pantoja, ketika memberi menu latihan kepada anak-anak Uni Papua Banda Aceh, Minggu(14/6) lalu.
“ Infrastruktur untuk menumbuhkembangkan minat dan bakat anak-anak terhadap sepakbola sosial di Banda Aceh cukup memadai, hanya saja, bentuk pendekatan yang harus dilihat.Misalnya lewat pendekatan agama, itu juga bisa dicoba,” jelasnya.


Selama dua hari, Instruktur berkewarganegaraan Brasil, Glaiton Pantoja dan GM Uni Papua FC Alma Costa memberikan coaching clinik kepada anak-anak yang tergabung dalam Uni Papua Kuta Gle Banda Aceh. Ternyata mendapat respon yang baik dari anak-anak, termasuk dari Asprov PSSI Aceh.(MR/UP)

Sunday, June 21, 2015

Uni Papua dan MCI Buka Jalan Bagi Anak Indonesia ke AC Milan

Logo Milan Club Indonesia
Jakarta(22/6),- Perkumpulan sepakbola sosial Uni Papua kembali menjajal kerjasama dengan Milan Club Indonesia (MCI)untuk pengembangan anak melalui program kerjasama Uni Papua dan Klub Sepakbola tersohor di dunia asal Italia, AC Milan.

Kerjasama antar Uni Papua FC dan MCI ini, ditandai dengan penandatanganan nota kerjasama antara General Manager Uni Papua, Alma Costa dan Presiden MCI, Aldrin Watson Gainau, di Jakarta, Sabtu(20/6).

“ Sejak 2013, kami sudah membuka ruang dan mengajak kerjasama dengan berbagai pihak, tetapi selalu mentok di tengah jalan, karena selalu ditunggangi oleh berbagai kepentingan untuk popularitas individu dan kelompok tertentu. Akhirnya kami bertemu dengan Uni Papua FC,” tutur Presiden MCI, Aldrin Watson Gainau, beberapa saat setelah penandatangan kerjasama itu.

Uni Papua, kata Gainau, memiliki pandangan yang sama dengan MCI terhadap potensi anak-anak Indonesia. Ia berharap, melalui kerjasama ini, anak-anak Indonesia, melalui Uni Papua dan MCI dapat mendapat ilmu sepakbola langsung dari AC Milan, atau pihak AC Milan yang datang ke Indonesia.

Wakil Presiden MCI, Lorenzo Ammendola yang berada di Milan, ketika mendengar kabar kerjasama itu, mengaku senang.” Luar biasa, salam untuk kalian semua, saya sudah tidak sabar untuk datang ke Indonesia, saya merindukan kalian semua,” kata Lorenzo via pesan pendeknya kepada Presiden MCI, beberapa saat setelah kerjasama itu.


General Manager Uni Papua, Alma Costa, nampaknya sangat bersemangat dengan kerjasama itu. Ia berkeyakinan, melalui Uni Papua dan MCI, akan terbuka jalan bagi anak-anak Indonesia untuk bermain sepakbola, bukan saja di Indonesia, tapi juga di tingkat Eropa.” Bisa ikut Camp bersama AC Milan, jadi ruangnya jadi lebih lebar untuk membawa anak-anak Indonesia ke sana,” kata Alma Costa.(MR/Uni Papua)

UNI PAPUA TURUT MERAMAIKAN ACARA RAIMUNA NASIONAL XI 2017

Jakarta 18 Agustus 2017 Pada hari ke-3 di acara akbar yang di selenggarakan setiap 4 tahun sekali ini Komunitas Sepakbola Sosial Uni P...